Sabtu, 29 Januari 2011

Prasasti Ciaruteun

Prasasti CiaruteunPenemuan Prasasti Ciaruteun pertama kali dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Weten-schappen (sekarang Museum Nasional) pada tahun 1863. Lokasi ditemukannya Prasasti Ciaruteun ini merupakan suatu bukit yang diapit oleh tiga sungai: Sungai Cisadane, Sungai Cianten, dan Sungai Ciaruteun.
Prasasti Ciaruteun sekarang berada di desa Ciaruteun Hilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Tersimpan dibawah sebuah naungan yang dibuat oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1981. Rupanya akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini ikut  terhanyut beberapa meter ke hilir dan celakanya bagian yang bertulisan posisinya berada di bawah. Tahun 1903 prasasti ini berhasil dipindahkan lagi ke tempatnya semula. Lalu pada tahun 1981 agar tidak terulang lagi terseret banjir Prasati Ciaruten ditempatkan di lokasinya sekarang.
Prasasti Ciaruteun berupa batu gelondong besar berukuran variasi panjang lebar tinggi sekitar 150 cm. Beratnya mencapai 8 ton. Batu Prasasti Ciaruteun bergores aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari empat baris; bunyinya:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam
Terjemahan menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.
Dapat diartikan bahwa text dalam Prasasti Ciaruteun menyatakan adanya seorang raja bernama Purnawarman dan menguasai kerajaan bernama Tarumanagara.
Selain itu, ada pula cerukan bergambar sepasang “pandatala” atau jejak kaki  dan pada pahatan bergambar sulur-sulur, serta pahatan gambar laba-laba.
Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah dimana prasasti ditempatkan. Hal ini menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Dengan keberadaan Prasasti Ciaruteun ini, menunjukkan bahwa daerah tersebut termasuk kawasan kekuasaan Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya bernama Purnawarman .
Apa yang didapat dari Prasasti Ciaruteun dikuatkan pula dengan teks dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.
sumber:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar